Minggu, 20 Oktober 2013

PUISI Mengenang tragedi tugu INKAI di Pantai Boom Banyuwangi




KEPASRAHAN

IBU…KETIKA MEREKA PERGI
TERIRING LANGIT CERAH MEMBIRU
AKU BERLARI…
TAK TERBAYANGKAN OLEHKU
MISTERI KEPERGIAN TELAH MENANTI,
SEMENTARA AYAH MASIH TERBATUK-BATUK
MEMEGANGI BADANNYA YANG KERIPUT.

IBU…KETIKA IBU BERSIMPUH DIPASIR PANTAI
MERATAP DAN MEMANGGILNYA
AKU SEMAKIN TAHU
BETAPA ARTI, AIR SUSUMU.

AYAH…IBU…MARILAH PULANG
NYAI RATU DAN IBU PERTIWI
TAK AKAN MEMBIARKAN MEREKA KEDINGINAN.

KAWAN…ENGKAU ADALAH PAHLAWANKU
JIWA LUHUR, BUDI PEKERTI
DAYA JUANG YANG TINGGI
TELAH TERPAMPANG DALAM JIWAMU.

KAWAN…ENGKAU TELAH BERSATU DALAM JIWA RAGAKU
KU KAN TERUSKAN SEMANGAT API YANG MENGGELORA DALAM DADAKU.

TUHAN…MEREKA TELAH PERGI…
TUHAN KAMI RELA
PASRAH HATI KAMI MENERIMA KENYATAAN INI
DENGAN KEBANGGAAN MASIH MELEKAT DIHATI INI
WALAU DUKA MASIH BERSELIMUT
DENGAN BESAR HATI KAMI PANTANG MENYERAH
DALAM MENYUSURI LIKU HIDUP INI.

KAWAN…JIWA DAN SEMANGAT TERPAKU DIDADADKU
SEMOGA PENGORBANANMU TIDAK SIA-SIA
WAHAI KARANG DAN OMBAK DILAUTAN
JAGALAH KAWANKU, JAGALAH TANAH AIRKU.

HMJS

BANYUWANGI – Kontingen Banyuwangi tampil cukup baik dalam kejuaraan daerah (kejurda) karate di Kota Kediri. Dalam kejuaraan yang memperebutkan Piala Wali Kota Kediri tersebut, duta olahraga Kota Gandrung berhasil mendulang sembilan medali. Rincian medali yang diperoleh dalam even yang digelar 23-25 Maret tersebut adalah lima emas, satu perak, dan tiga perunggu. Hasil itu menempatkan kontingen Banyuwangi yang diperkuat perguruan Inkai itu di peringkat empat di klasemen akhir pendulang medali terbanyak. Banyuwangi berada di bawah tuan rumah Kediri, Marinir, YMCA, dan Surabaya.

Hasil tersebut menunjukkan kontingen Banyuwangi mampu bersaing dengan beberapa kontingen lain. Sementara itu, lima medali emas tersebut didapat di kelas pemula 9 hingga 11 tahun. Mereka yang meraih medali emas adalah Erfi nda, Aqidatul, dan Dimas. Capaian tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Forki dan Inkai Banyuwangi. Dalam kejuaraan tersebut, Banyuwangi mengirim 23 karateka terbaik. Hasil tersebut menjadi spirit untuk tampil lebih baik di ajang berikutnya. Setidaknya ajang tersebut menjadi langkah awal dalam mempersiapkan diri menuju Porprov IV di Madiun mendatang. (radar)

HMJS

SUMPAH KARATE


Sumpah Karate

1) Sanggup Memelihara Kepribadian
2) Sanggup Patuh Pada Kejujuran
3) Sanggup Mempertinggi Prestasi
4) Sanggup Menjaga Sopan Santun
5) Sanggup Menguasai Diri

Dalam Bahasa Jepangnya:
SUMPAH KARATE

1. SANGGUP MEMELIHARA KEPRIBADIAN

Jinkaku kansei ni tsutomuju koto

2. SANGGUP PATUH PADA KEJUJURAN

Makoto no michi o mamoju koto

3. SANGGUP MEMPERTINGGI PRESTASI

Doryoku no seishin o yoshinau koto

4. SANGGUP MENJAGA SOPAN SANTUN

Reigi o omonzuju koto

5. SANGGUP MENGUASAI DIRI

Kekki no you o imashimuju koto


Arti Dari Sumpah Tersebut Adalah :
a) Sanggup Memelihara Kepribadian
Seorang Karateka berjiwa ksatria, sportif, berbudi pekerti luhur, tidak sombong dan rendah hati

b) Sanggup Patuh Pada Kejujuran
Seorang Karateka pantang berbohong, jujur pada diri sendiri dan orang lain, sehingga dapat dipercaya semua orang.

c) Sanggup Mempertinggi Prestasi
Sesuai tingkatan sabuk, seorang Karateka harus dapat meningkatkan kemampuan diri dari segi teknik, fisik dan keilmuan serta filosofi Karate-Do. Bagi para atlet harus rajin berlatih agar mampu meningkatkan prestasi yang sudah diraih.

d) Sanggup Menjaga Sopan Santun
Karateka adalah figur yang memiliki etika dalam kehidupan sehari-hari, baik di perguruan, pekerjaan dan pergaulan di masyarakat. Menghormati dan menghargai sesama Karateka (yunior, setara dan senior) maupun kepada orang lain.
Sebagaimana dinasihatkan Gichin Funakoshi: “Tanpa sopan santun kau tidak akan bisa berlatih Karate-Do. Hal ini tidak hanya berlaku selama latihan saja namun juga dalam hidupmu sehari-hari.”

e) Sanggup Menguasai Diri
Seorang Karateka yang menjiwai Karate-Do akan mampu mengendalikan emosinya. Lebih memilih menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah daripada kepalan tangan. Selalu menghindari perkelahian daripada menimbulkan masalah apalagi mencederai orang lain. Teknik Karate hanya digunakan saat keadaan benar-benar memaksa dan tak ada jalan lain untuk menghindar.
Gichin Funakoshi mengingatkan; untuk mendapat seratus kemenangan dalam seratus pertarungan bukanlah kemampuan yang tertinggi. Untuk menaklukkan lawan tanpa bertarung adalah kemampuan yang tertinggi.


Sebuah renungan
Sumpah Karate diucapkan saat upacara tradisi Karate, di awal dan akhir latihan.
Jika latihan dua kali dalam seminggu, berarti seminggu empat kali mengucap sumpah.
Dalam sebulan, berarti enam belas kali mengucap sumpah.
Sebagai Karateka, apakah sikap dan tingkah laku kita sudah sesuai dengan sumpah yang kita ucapkan ratusan bahkan ribuan kali selama kita berlatih Karate?

Tingkatan sumpah lebih tinggi tanggungjawabnya dari sekedar ikrar dan janji.
Sumpah, mudah diucapkan, tapi tak semua orang bisa melaksanakan.
HMJS

SEJARAH FORKI

Sejarah Forki Indonesia

 FORKI

Karate masuk di Indonesia bukan dibawa oleh tentara Jepang melainkan oleh Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kembakli ke tanah air, setelah menyelesaikan pendidikannya di Jepang. Tahun 1963 beberapa Mahasiswa Indonesia antara lain: Baud AD Adikusumo, Karianto Djojonegoro, Mochtar Ruskan dan Ottoman Noh mendirikan Dojo di Jakarta. Mereka inilah yang mula-mula memperkenalkan karate (aliran Shoto-kan) di Indonesia, dan selanjutnya mereka membentuk wadah yang mereka namakan Persatuan Olahraga Karate Indonesia (PORKI) yang diresmikan tanggal 10 Maret 1964 di Jakarta.
Beberapa tahun kemudian berdatangan ex Mahasiswa Indonesia dari Jepang seperti Setyo Haryono (pendiri Gojukai), Anton Lesiangi, Sabeth Muchsin dan Chairul Taman yang turut mengembangkan karate di tanah air. Disamping ex Mahasiswa-mahasiswa tersebut di atas orang-orang Jepang yang datang ke Indonesia dalam rangka usaha telah pula ikut memberikan warna bagi perkembangan karate di Indonesia. Mereka-mereka ini antara lain: Matsusaki (Kushinryu-1966), Ishi (Gojuryu-1969), Hayashi (Shitoryu-1971) dan Oyama (Kyokushinkai-1967)
Karate ternyata memperoleh banyak penggemar, yang implementasinya terlihat muncul dari berbagai macam organisasi (Pengurus) karate, dengan berbagai aliran seperti yang dianut oleh masing-masing pendiri perguruan. Banyaknya perguruan karate dengan berbagai aliran menyebabkan terjadinya ketidak cocokan diantara para tokoh tersebut, sehingga menimbulkan perpecahan di dalam tubuh PORKI. Namun akhirnya dengan adanya kesepakatan dari para tokoh-tokoh karate untuk kembali bersatu dalam upaya mengembangkan karate di tanah air sehingga pada tahun 1972 hasil Kongres ke IV PORKI, terbentuklah satu wadah organisasi karate yang diberi nama Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI).
Sejak FORKI berdiri sampai dengan saat ini kepengurusan di tingkat Pusat yang dikenal dengan nama Pengurus Besar (PB). telah dipimpin oleh tujuh orang Ketua Umum dan periodisasi kepengurusannyapun mengalama tiga kali perobahan masa periodisasi yaitu ; periode lima tahun (ditetapkan pada Kongres tahun 1972 untuk kepengurusan periode tahun 1972 – 1977) periodisasi tiga tahun (ditetapkan pada kongres tahun 1997 untuk kepengurusan periode tahun 1997 – 1980) dan periodisasi empat tahun ( Berlaku sejak kongres tahun 1980 sampai sekarang).

Adapun mereka-mereka yang pernah menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal (Umum) FORKI sejak tahun 1972 adalah sbb :

Periode/Masa Bakti
Ketua Umum
Sekretaris Jenderal/Umum
Keterangan
1972 – 1977
Widjojo Suyono Otoman Nuh Kongres IV PORKI/FORKI 1972 di Jakarta
1977 – 1980
S u m a d i Rustam Ibrahim Kongres V FORKI 1977 di Jakarta
1980 – 1984
Subhan Djajaatmadja G.A. Pesik Kongres VI FORKI 1980 di Jakarta
1984 – 1988
R u d i n i Adam Saleh Kongres VII FORKI 1984 di Bandar Lampung
1988 – 1992
R u d i n i G.A. Pesik Kongres VIII FORKI 1988 di Jakarta
1992 – 1996
R u d i n i G.A. Pesik Kongres IX 1992 di Jakarta (Diperpanjang sd 1997)
1997 – 2001
W i r a n t o Drs. Hendardji -S,SH. Kongres X FORKI 1997 di Caringin Bogor Jawa Barat
2001 – 2005
Luhut B. Pandjaitan, MPA. Drs. Hendardji -S,SH. Konres XI FORKI 2001 di Jakarta
2005 – 2009
Luhut B. Pandjaitan, MPA. Drs. Hendardji -S,SH. Kongres XII FORKI 2005 di Jakarta
2010 – 2014
Drs. H. Hendardji Soepandji, SH Lumban Sianipar, SIP., MSc Kongre XIII FORKI 2010 di Jakarta
PERGURUAN KARATE ANGGOTA FORKI:
1.   AMURA
2.   BKC (Bandung Karate Club)
3.   BLACK PANTHER KARATE INDONESIA
4.   FUNAKOSHI
5.   GABDIKA SHITORYU INDONESIA (Gabungan Beladiri Karate-Do Shitoryu)
6.   GOJUKAI (Gojuryu Karate-Do Indonesia)
7.   GOJU RYU ASS (Gojuryu Association)
8.   GOKASI (Gojuryu Karate-Do Shinbukan Seluruh Indonesia)
9.   INKADO (Indonesia Karate-Do)10. INKAI (Institut Karate-Do Indonesia)
11. INKANAS (Intitut Karate-Do Nasional)
12. KALA HITAM
13. KANDAGA PRANA
14. KEI SHIN KAN
15. KKNSI (Kesatuan Karate-Do Naga Sakti Indonesia)
16. KKI (Kushin Ryu M. Karate-Do Indonesia)
17. KYOKUSHINKAI (Kyokushinkai Karate-Do Indonesia)
18. LEMKARI (Lembaga Karate-Do Indonesia)
19. SHOTOKAI
20. PORBIKAWA
21. PORDIBYA
22. SHINDOKA
23. SHI ROI TE
24. TAKO INDONESIA
25. WADOKAI (Wadoryu Karate-Do Indonesia)

PB. FORKI beberapa kali mendapat kepercayaan menyelenggarakan even Internasional diantaranya :

1. Menjadi tuan rumah APUKO II tahun 1976 dilaksanakan di Jakarta.
2. Menjadi tuan rumah APUKO VII tahun 1987 dilaksanakan di Jakarta.
3. Menjadi tuan rumah APUKO Junior tahun 1991 dilaksanakan di Jakarta.
Di samping even-even tersebut PB. FORKI dipercayakan juga oleh KONI Pusat sebagai penyelenggara pertandingan karate pada even Sea Games dimana Indonesia menjadi tuan rumah yaitu masing-masing :
1. Sea Games XIV tahun 1987 di Jakarta.2. Sea Games XIX tahun 1997 di Jakarta.
PB. FORKI pernah menggelar even Internasional di luar agenda resmi dari WKF dan AKF sebagai inisiatif sendiri dari PB. FORKI yaitu “ Indonesia Open Karate Tournamen “ yang dilaksanakan di Jakarta tahun 2002, dan The 2nd Indonesia Open Karate Championship 2010 di Denpasar, Bali.